Produk Indonesia

Selasa, 05 Agustus 2014

Info Serangan virus Ebola


Beberapa minggu terakhir, masyarakat dunia diresahkan pemberitaan mengenai merebaknya salah satu virus paling berbahaya di dunia, Ebola. Hingga kini, strain baru dari virus yang pernah menyebabkan epidemi di Benua Afrika tersebut telah merenggut hampir 900 nyawa di tiga negara. 

Strain baru dari virus ebola tersebut dinamakan strain Zaire, yang diambil dari nama negara di mana Ebola pertama kali ditemukan pada tahun 1976. Melansir Reuters, data WHO menyebutkan laju penyebaran virus Ebola di beberapa kasus bisa meningkat hingga 90 persen. 

Sementara saat ini, serangan Ebola strain Zaire yang merebak di Sierre Leone, Guyana dan Liberia tercatat telah menjangkiti 1603 orang dan membunuh 887 pasien. Dengan kata lain, laju serangan Ebola mencapai 78,5 persen dengan laju kematian sebesar 55 persen. Para peneliti menyebutkan, serangan ini merupakan salah satu kasus epidemi Ebola terburuk dalam sejarah. 

“Dilihat secara statistik, kasus epidemi Ebola kali ini bisa jadi semakin parah,” terang Derek Gatherer, ahli virus dari University of Lancaster, Inggris, yang telah mengikuti wabah terbaru Ebola sejak pertama kali diberitakan pada Februari silam. 

Lebih lanjut, Gatherer memprediksi penangkal strain baru virus tersebut kemungkinan baru ditemukan saat laju kematian mencapai 80 persen. “Para peneliti harus bekerja lebih cepat dalam menemukan vaksin penangkal virus tersebut,” sebutnya. 

Saat ini, laju kematian tercepat dari ketiga negara yang terkena wabah Ebola, terjadi di Guyana. WHO mengumumkan laju kematian pasien Ebola di Guyana mencapai 74 persen, sementara di Liberia 54 persen dan Sierra Leone 42 persen. 

Peneliti Ebola dari University Reading, Inggris, Ben Neuman, menyebutkan waktu inkubasi virus Ebola bisa mencapai 30 hari sebelum merenggut nyawa pasien. Tapi, adanya strain baru dari virus tersebut bisa mempercepat laju inkubasi yang berimbas pada tingginya angka kematian pasien. 

Di sisi lain, dunia sebenarnya sudah menyiapkan diri akan adanya wabah Ebola sejak lama. Neuman menyebutkan, jika pasien terjangkit Ebola mendapatkan perawatan medis yang tepat, maka kelangsungan hidup pasien pun akan meningkat. 

Kendati begitu, Neuman mengingatkan bahwa Ebola merupakan virus yang paling berbahaya. “Tidak ada penyakit lain yang punya vonis kematian seperti Ebola. Sekali terinfeksi, pasien sudah dipastikan bertaruh nyawa,” ungkapnya. 

Kurang Dukungan Medis

Menurut WHO, wabah Ebola yang kini menyerang negara-negara di Afrika Barat lebih dikarenakan kurangnya dukungan medis, sehingga pasien tidak mendapatkan perawatan medis yang tepat.

Guyana, Liberia dan Sierra Leone juga termasuk daftar negara termiskin di dunia. Imbasnya, rumah sakit pemerintah di daerah tersebut seringkali kekurangan peralatan medis yang memadai, ditambah sanitasi masyarakat yang buruk, mengakibatkan laju penyebaran wabah yang semakin cepat. 

Selain itu, kurangnya sosialisasi akan Ebola di negara-negara tersebut, ditambah petugas medis yang menggunakan baju pelindung, membuat pasien ketakutan dan akhirnya menghindari pengobatan. Hal itu, juga berpengaruh pada biasnya pendataan mengenai pasien Ebola di Afrika Barat. 

Belum Ada Vaksin

Kabar buruk lainnya adalah belum adanya pengobatan yang bisa menangkal virus Ebola. Dengan kata lain, vaksin Ebola hingga saat ini belum ditemukan. Perawatan paling efisien yang diberikan petugas medis adalah dengan memfokuskan diri merawat gejala Ebola seperti demam, muntah dan diare, yang berimbas pada dehidrasi parah dan menyebabkan kematian. 

Petunjuk penanganan Ebola yang dikeluarkan WHO menyarankan agar pasien diberi asupan cairan elektrolit guna menggantikan cairan tubuh yang hilang, baik secara oral ataupun infus. Selain itu, pasien juga harus ditempatkan di ruang isolasi karena virus Ebola bisa berpindah melalui cairan tubuh.

Sementara ini, dikhawatirkan virus Ebola telah menyebar ke Nigeria dan Arab Saudi. Pemerintah Nigeria melaporkan mendapati 8 dugaan kasus Ebola terkait kematian mendadak seorang pria yang baru saja berkunjung dari Liberia minggu lalu. Adapun Kementrian Kesehatan Arab Saudi juga tengah memantau ketat seorang pria yang baru saja pulang dari Sierra Leone. 

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengabarkan tengah merawat dua pasien yang diduga terjangkit Ebola saat bekerja di Afrika Barat. 


Tetap jaga kesehatan anda dengan gaya hidup bersih :)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar